Selasa, 01 September 2015

Imam-imam Salaf dan kaidah penting bagi Salaf

Imam-imam yang dianggap sebagai imam Salaf di antaranya:
Imam Abu Hanifah, Imam Malik  bin Anas, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Al-Bukhari, Imam Abu Ja’far At-Thahawi Al-Hanafi, Imam Ibn Abi Zaid Al-Qirawani Al-Maliki, Imam Ibnu Taimiyah, dan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Kaidah yang penting dalam kajian Aqidah, menurut Salaf adalah:
1.      Al-Qur’an sebagai sumber dalil Naqli dan Aqli.
2.      Mengikuti Salafus Shalihin dalam menafsirkan nas-nash.
3.      Beriman kepada masalah-masalah ghaib terbatas pada berita yang benar/ sah (khabar shadiq).
4.      Pembagian tauhid kepada Rububiyyah dan Uluhiyyah dan kewajiban meyakini keduanya.
5.      Mengisbatkan (menetapkan) Asma wa shifat Allah, dan mengakui maknanya tanpa mencoba membicarakan kaifiyatnya.
6.      Menolak takwil.
7.      Membatasi akal dari memikirkan yang bukan bidangnya.
8.      Membatasi makna mutasyabbih dan menjelaskan bahwa Qur’an itu seluruhnya jelas dan dapat ditafsiri.
9.      Pengaruh sebab-sebab alam bagi akibat yang ditimbulkannya dengan izin Allah.
10.  Baik dan buruk dalam af’al adalah bersifat aqli dan syar’i.
11.  Tidak boleh mengkafirkan seorang muslim karena perbuatan dosa yang diikhtilafkan dan bukan dosa syirik besar karena kesalahan.

    Ciri utama kaum Salaf adalah sangat ketat dalam hal Tauhid, baik secara i’tikad maupun ibadah. Maka mereka sangat mementingkan pembahasan Tauhid dan  tentang kepercayaan yang bathil, seperti syirik, takhayul, khurofat, tathoyyur, perdukunan, meminta ke kuburan dsb. Juga tentang bid’ah, tawassul dsb.


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Julukan Kiyai untuk ulama perlu dihapus

Kalau hal ini dibiarkan, maka kondisi semakin runyam. Maka perlu diadakan gerakan total untuk mendudukkan masalah pada proporsinya. Istilah-istilah yang tidak jelas, seperti halnya Kiyai, perlu dibersihkan, dan kalau perlu dienyahkan dari terminologi Islam, supaya Islam tidak dikotori dengan pemahaman-pemahaman yang tidak jelas. Tetapi, maukah mereka? Dan maukah masyarakatnya? Justru hal-hal yang tidak jelas itulah yang mereka cari, kadang-kadang. Itulah persoalannya pula.

    Dari kenyataan itu, maka sangat baguslah orang-orang yang konsisten, dan tidak mau disebut atau menyebut dirinya Kiyai. Sebagaimana Hamka, Ptof Dr H Mahmud Yunus dan lain-lain, mereka adalah ulama terkemuka dan menulis tafsir serta kitab-kitab Islam namun tidak disebut Kiyai, serta tidak menyebut dirinya Kiyai. Walaupun secara keilmuan maupun akhlaqnya, mereka adalah ulama, alim agama. 

    Seandainya para ulama yang kini digelari Kiyai itu ikhlas mencopot gelar Kiyainya dan tak mau lagi disebut Kiyai, maka biar sekalian ketahuan bahwa Kiyai yang masih rela disebut Kiyai adalah Kiyai Dukun saja. Itu mungkin lebih baik, karena memang di dalam Islam tidak ada istilah  Kiyai itu, demikian pula adat-adat yang lekat dengan kekiyaian kalau dicocokkan dengan Islam tampaknya memang sering berjauhan. Contoh paling kecil saja, setiap kongres para Kiyai NU, (namanya bukan kongres Kiyai, tapi biasanya kongres Ulama), hampir bisa dipastikan mesti dikintil (disertai) oleh sponsor dari pabrik rokok. Asbak tempat puntung rokok lengkap dengan cap pabrik rokok mesti berjajar berderet-deret di hadapan para Kiyai. Apakah merokok itu menjadi salah satu perbuatan yang diafdholkan (diutamakan) dalam Islam? Paling kurang, mesti hukumnya makruh, perlu ditinggalkan. Tetapi kenapa justru para Kiyai menjadi contoh buruk dalam masalah ini? Sehingga kalau orang yang suka bercanda akan bisa bilang, yang terpilih dalam jam’iyah itu tentunya yang paling jago dalam merokok. Lho kenapa? Karena setiap kongres apalagi muktamar, mesti dikintil / diikuti oleh  sponsor yaitu pabrik rokok. 

   Antara “harus” membuang julukan Kiyai dengan memperbaiki mental dan polah tingkah Kiyai, semuanya adalah hal yang rumit. Sebenarnya pada mulanya hanya ada pertanyaan-pertanyaan seperti yang diajukan kepada Hamka tentang makna Kiyai itu sendiri. Namun setelah para Kiyai terjun ke politik bahkan ucapan-ucapannya ada yang kurang pas, baik secara politik itu sendiri maupun bahkan secara Islam, maka pertanyaan itu  muncul lagi serta lebih sarat makna, dalam arti Kiyai menjadi sosok yang tidak jelas lagi di mata masyarakat. Dan dikhawatirkan, sebutan Kiyai justru jadi tempat perlindungan bagi orang-orang yang sebenarnya hanya mementingkan kepentingan diri mereka, keluarga mereka, dan golongan mereka. Yang hal itu tidak mudah digugat, karena belum ada kitab rujukan yang baku (istilah NU-nya mu’tabaroh) yang mengecam busuknya tingkah Kiyai. Sementara itu kalau sebutan ulama maka sudah banyak kitab baku yang bisa dijadikan panduan untuk mengecam tingkah buruk ulama suu’

    Dikhawatirkan akan muncul pandangan: “Saya kan hanya Kiyai, bukan ulama. Yang tergolong ada yang suu’ (jahat) itu kan ulama. Jangan disamakan dong, Kiyai dengan ulama. Kalau ulama sih, tak boleh berbuat begini dan begitu. Kalau Kiyai, boleh-boleh saja...” 

    Sekali pintu kejahatan itu terbuka, maka akan terbuka pula kejahatan-kejahatan lain yang bervariasi dan bisa lebih besar lagi. Sebutan Kiyai di sini sudah ada gejala terbukanya kejahatan-kejahatan, baik tersamar maupun bisa terasakan secara umum. Oleh karena itu, perlu ditutup pintu kejahatan itu. Di antara jalan yang praktis adalah membuang sebutan Kiyai itu sendiri, dari khazanah istilah Islam, kemudian dikembalikan kepada istilah Islam, yaitu ulama atau alim atau ‘allamah, atau syaikh seperti yang berlaku di dunia Islam. Hingga ulama yang benar bisa ditiru atau diteladani, sedang yang jahat atau suu’ bisa disingkiri, karena kriterianya sudah jelas.

   Adapun sebutan Kiyai yang bisa disejajarkan dengan doktor oleh Departemen Agama sehingga bisa menduduki jabatan rektor suatu perguruan tinggi, contohnya KH Abdul Qadir Jaelani yang memimpin perguruan tinggi di Tanjung Priok Jakarta, hendaknya diganti dengan istilah yang pas pula, misalnya syaikh atau alim, atau ‘allamah. Dan tentunya perlu sesuai pula dengan kadar keilmuan, tentang siapa yang bisa dijuluki syaikh atau ‘alim atau ‘allamah. Bukan sekadar hafal syair ya Robbi bil Mushthofaيا رب بالمصطفى بلغ مقاصدنا  yang syair itu sendiri mengandung persoalan secara aqidah karena mengandung tawassul/ perantara dengan orang yang sudah wafat, yang hal itu sama sekali tidak syar’i) lalu diberi gelar ‘alim atau ‘ulama atau ‘allamah, sebagaimana sekarang bisa digelari Kiyai.

    Apakah para Kiyai akan ikhlas dengan usulan semacam ini? Wallahu a’lam. Itu urusan mereka. Hal yang baik dan yang benar dalam Islam tidak perlu persetujuan para Kiyai. Justru para Kiyai mestinya yang harus tunduk kepada kebenaran, kalau memang mereka istiqomah / konsisten dalam ber-Islam. Ini hanya mengingatkan, perlunya dibuang istilah Kiyai dari julukan keulamaan itu karena mengikuti kaidah saddudz dzarooi’ yaitu menutup jalan yang menuju bahaya. Kaidah itu diakui oleh para ulama dalam Ushul Fiqh. Bukti-bukti dan gejalanya telah nampak, maka sebelum kondisinya akan lebih parah, sebaiknya ditempuh jalan saddudz dzaroi’  itu.
   Demikianlah. Apabila hal ini menyinggung perasaan para Kiyai, maka dengan sepenuh hati kami minta maaf. Walaupun demikian, pendapat ini tetap kami sengaja untuk dikemukakan. 


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Sabtu, 15 Agustus 2015

Sumpah Lia Aminuddin & Pernyataan Armansyah

06 Oktober 1998
Via
Landung Wahana (landung@kami.com)
salamullah-info@egroups.com
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh,

Sdr. Armansyah,
Saya ingin sekali meyakinkan masyarakat atas kebenaran pernyataan-pernyataan saya. Sudah lama saya menunggu orang yang ingin menilai pernyataan saya ini melalui sumpah. Maka dengan sepenuh hati saya ingin mengutarakan sumpah saya ini:
Bismillahirrahmanirrahim,
Asyahu anla ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah
Demi Allah Yang Maha Memiliki kutukan.
Demi Allah Yang Maha Membenarkan dan demi Allah Yang Maha memiliki dan menurunkan takdir.
Demi Al Quran dan junjungan saya, Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wassalam.
Demi langit dan bumi, tempat kehidupan saya dan seluruh makhluk ciptaan Allah.
Semoga Allah segera memperlihatkan kebenaran pernyataan saya.
Dan semoga Malaikat Jibril yang menyertai saya itu dapat segera mengemukakan tanda-tanda dan segala kemampuannya agar pernyataan saya dapat terbukti kebenarannya.
Saya bersumpah, demi segala yang saya nyatakan di atas, bahwa dengan ini saya menyatakan pada tanggal 18 Agustus 1998 pada pukul 8.45, saya telah dibaiat Allah melalui Malaikat Jibril bahwa saya adalah Imam Mahdi, dan anak saya, Ahmad Mukti, sebagai Nabi Isa.
Demi seluruh kehidupan saya dan kehidupan seluruh keturunan saya, saya bersumpah atas nama Allah dan Al Quran sebagai landasan keyakinan saya, bahwa pernyataan saya itu benar-benar saya terima dari Allah dan Malaikat Jibril sebagai pembaiat saya.
Bila sekiranya saya salah dan telah berbohong, saya dengan ikhlas akan menerima segala konsekuensinya, yaitu kutukan Allah yang telah saya sebutkan di dalam sumpah saya ketika dibaiat sebagai Imam Mahdi.
Adapun sumpah saya itu adalah sebagai berikut :
Saya bersumpah kepada Allah untuk menjalankan tugas saya sebagai Imam Mahdi dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya dan tak akan menyelesaikan segala masalah selain hanya dengan kebenaran dan keadilan. Seluruh tanggung jawab saya sebagai Imam Mahdi, saya pertanggung jawabkan langsung kepada Allah.
Bila saya mengingkari sumpah saya ini, maka saya bersedia menerima kutukan Allah, yaitu saya mohon kepada Allah agar memerintahkan bumi tak menerima jasadku dan seluruh alam semesta menyiksaku dan membiarkan segala yang saya makan duri dan yang saya minum adalah racun. Dan saya pun bersedia ditempatkan Allah kekal di dalam neraka, dan tak pernah menyentuh surga.
Demikianlah sumpah saya ketika saya dibaiat sebagai Imam Mahdi dan kini saya ulangi kembali sesuai permintaan Anda dan sekaligus saya nyatakan kepada masyarakat. Semoga sumpah saya ini dapat menjadi pertimbangan akan kebenaran pernyataan saya itu. Sekian dan terimakasih.
Wassalam,
Lia Aminuddin
Pernyataan Ku
Bismillahirrohmanirrohim.,
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Sesungguhnya Aku bersaksi, tiada Ilah yang patut kusembah, menghambakan diri secara penuh, tempat aku meminta pertolongan, tempat aku mengadu dan lain sebagainya kecuali Allah yang Maha Esa dalam berbagai bidang dan sifat-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, menguasai seluruh langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya, tiada serikat bagi-Nya.
Dan Aku bersaksi bahwa KhatamanNabiyin, Muhammad bin Abdullah Rasul Allah adalah benar seorang Nabi yang ummi, seorang utusan Allah yang nama dan sifatnya terdapat pada berbagai kitab suci Allah dan dinubuatkan oleh seluruh Nabi dan Rasul-Nya.
Bahwa aku menolak dengan jelas semua paham ke-Tuhanan yang menyimpang dari sisi Tauhid, termasuk didalamnya tentang Tritunggal/Trinitas, Trimurti dan sejenisnya.
Bahwa Aku menolak semua paham kenabian yang didakwa oleh manusia-manusia Bani Adam setelah beliau, termasuk klaim Mirza Ghulam Ahmad, Elijah Muhammad, Lia Aminuddin, Ahmad Mukti, Lois Farakhan, Musailamah Alkahzab dan sejumlah nama-nama "Dajjal" lainnya berdasarkan AlQur'an dan Sunnah Rasulullah Saw yang benar.
Sebagai konsekwensinya, apabila ternyata apa yang sudah kulakukan saat ini, yaitu menolak kedatangan Ahmad Mukti sebagai Isa Almasih dan Lia Aminuddin sebagai Imam Mahdi, maka Aku siap menerima apapun azab akibat yang akan ditimpakan oleh Allah Swt kepada diriku.
Seluruh hidupku, dunia dan akhirat, kuserahkan semuanya secara penuh kepada Allah Swt.
Terakhir, Kepada Allah aku memohon ampun atas segala dosa dan salah, baik yang kusengaja atau tidak kusengaja yang dimungkinkan karena keterbatasan dan kelemahanku sebagai manusia biasa, dan penghargaan serta penghormatan tertinggi kuberikan kepada Rasulullah Muhammad Saw sang Nabi penutup, reformer sejati, pintu gerbang ilmu pengetahuan dunia dan akhirat dan salam takzim juga kucurahkan untuk para keluarga dan keturunan beliau serta para sahabat dan pengikutnya yang mendapatkan petunjuk Allah dibawah bendera Tauhid baik dahulu, sekarang dan yang akan datang dimanapun mereka berada.
Semoga Ibu Lia Aminuddin Yth dapat kembali kedalam petunjuk Allah yang benar.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi ?" (QS. 29:2)
"Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang beriman kepada Allah dan [percaya kepada] hari kemudian serta banyak menyebut Allah." (QS. 33:21)
Maaf, saya tidak bisa melakukan sumpah yang macam-macam seperti jasad tidak diterima bumi atau yang lainnya, apapun bentuk hukuman atau azab-Nya sepenuhnya saya serahkan kepada Allah Azza Wajalla, saya hanya mengikuti apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw ketika melakukan Mubahala dengan delegasi Kristen dari Najran seperti yang tergambar pada Al-Qur'an suci surah 3: ayat 60 s.d ayat 62.
"Kebenaran itu dari Tuhan-Mu, lantaran itu, janganlah engkau termasuk dari mereka yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang itu sesudah datang pengetahuan kepadamu, maka katakanlah: "Marilah kita ajak anak-anak kami dan anak-anak kamu dan perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu dan kaum kami dan kaum kamu, kemudian kita berdoa dan kita jadikan laknat Allah atas orang-orang yang dusta"; Sesungguhnya inilah kisah yang benar; dan tidak ada Ilah melainkan Allah dan sesungguhnya Allah itu Maha Gagah dan Bijaksana." (QS. Ali Imran 3:60-62)
"Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)." (QS. 42:13)
Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan keturunannya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa serta Nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membedakan seorangpun di antara mereka dan kepadaNya lah kami menyerahkan diri". (QS. 3:84)
"Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al-Kitab melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata." (QS. 98:4)
"Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka ? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim." (QS. 3:86)
"Dan Allah lebih mengetahui tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung. Dan cukuplah Allah menjadi Penolong." (QS. 4:45)
"Katakanlah: Hai Ahli Kitab! Marilah kepada kalimah yang adil antara kami dan kamu, yaitu janganlah kita sembah melainkan Allah dan janganlah kita menyekutukan sesuatu dengan Dia dan janganlah sebagian daripada kita menjadikan Ilah selain dari Allah." Jika mereka berpaling kebelakang, hendaklah kamu berkata: "saksikanlah bahwa sesungguhnya kami orang-orang Muslimin." (QS. 3:64)
"Ingat! Kamu ini orang-orang yang pernah berbantahan mengenai urusan yang kamu ketahui dan mengapakah kamu [sekarang] berbantahan mengenai urusan yang kamu tidak memiliki pengetahuan padanya ? Dan Allah itu Maha mengetahui dan kamu tidak mengetahui." (QS. 3:66)
"Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan bertaqwalah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (QS. Al-Ahzaab 33:2-3)
"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh, agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat." (QS. Al-Ahzaab 33: 7-11)
Palembang, Jum'at 09 Oktober 1998
Armansyah,yayat@geocities.com
http://www.geocities.com/pentagon/quarters/1246


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

Mengupas Zat KeTuhanan Trinitas

Bismillahirrahmanirrahim.
Seperti yang kita ketahui, didalam ajaran Kristen (kecuali saksi Yehovah dan Unitarian yg lain), Tuhan dikonsepkan menjadi 3 oknum.
Tuhan Bapa, Tuhan anak dan Tuhan Roh Kudus.
Dan ketiga-tiga oknum ini sehakikat dan satu dalam zat.
Dan sekali lagi, menurut ajaran Kristen (baik itu Katolik maupun Protestan) bahwa kata Anak pada anak Tuhan yang diperankan oleh Jesus alias Yahshua alias YAOHÚSHUA hol-MEHUSHKHÁY alias 'Isa al-Masih putra Maryam bukan hanya sebagai kiasan, namun dalam arti yang sebenarnya.
Oleh karena perkataan anak Tuhan disini digunakan dalam arti yang sebenarnya, maka perkataan "Bapa" disini harus juga digunakan pula dalam arti Bapa yang sesungguhnya.
Dengan demikian terjadilah suatu hal yang mustahil !
Karena anak yang sebenarnya dari sesuatu, adalah mustahil akan memiliki suatu zat dengan Bapa yang sesungguhnya dari sesuatu itu juga.
Sebab pada ketika zat yang satu itu disebut anak, tidak dapat ketika itu juga zat yang satu ini disebut sebagai Bapa.
Begitupula sebaliknya, yaitu pada ketika zat yang satu itu disebut sebagai Bapa, tidak dapat ketika itu kita sebut zat yang sama ini sebagai anak dari Bapa itu.
Ketika kita zat yang satu ini kita sebut Bapa, maka dimanakah anak ?
Oleh karena mereka memiliki konsep pluralitas Tuhan dalam satu zat, maka disini telah menghadapi suatu dilema yang sukar. Tapi jika disebut zat Bapa lain dari zat anak, maka akan nyata pula bahwa Tuhan itu tidak Esa lagi tetapi sudah menjadi dua (dualisme keTuhanan).
Begitu pula dengan masalah oknum Trinitas yang ketiga, yang umumnya disebut sebagai Roh Kudus, menambah perbendaharaan oknum keTuhanan sehingga Tuhan memiliki tiga oknum yang berbeda satu dengan yang lainnya sehingga imbasnya pengakuan ke-Esaan Tuhan dalam satu zat akan sirna.
Roh Kudus digambarkan sebagai api, sebagai burung dan lain sebagainya.
Dan oknum Roh Kudus ini seringkali turun, baik sebelum Yesus lahir, masa Yesus hidup ataupun masa-masa setelah kepergian Yesus sesudah kejadian penyaliban dibukit Golgotta.
Kalau anda perhatikan apa yang tertulis di Alkitab mengenai Roh Kudus maka akan ada dapati suatu kenyataan bahwa:
Roh Kudus didalam Alkitab *tidak pernah* tampil sebagai suatu pribadi.
Pada saat Yesus dibabtis Roh Kudus hanya digambarkan seperti burung merpati.
Pada saat Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, Roh Kudus digambarkan sebagai *lidah-lidah api*.
Kita perhatikan ayat tersebut:
KIS 2:3-4 Dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
Renungkanlah!
Adakah Allah itu bertebaran?
Adakah Allah itu hinggap pada murid-murid Yesus?
Adakah Allah itu memenuhi para murid?
Perhatikanlah, bahwa akibat dari *hinggapnya* Roh Kudus tersebut adalah: mereka menjadi mampu untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak dapat mereka lakukan.
Kemudian lihat ayat berikut:
MAT 3:11 Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasutNya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
Air, Roh Kudus dan Api digunakan untuk membaptis, apakah kita harus berfikir bahwa murid Yesus dibaptis dengan Allah?
Dalam hal ini, Tuhan sudah terpecah kedalam tiga zat yang berbeda.
Sebab jika tetap dikatakan masih dalam satu zat, maka pada ketika itu juga terjadilah zat Bapa adalah zat anak kemudian zat anak dan Bapa itu adalah juga zat Roh Kudus.
Sewaktu zat yang satu disebut Bapa, dimanakah anak ?
Dan sewaktu zat yang yang satu disebut sebagai anak, maka dimanakah Bapa serta Roh Kudus ?
Oleh sebab itu haruslah disana terdapat tiga wujud Tuhan dalam tiga zat yang berbeda.
Sebab yang memperbedakan oknum yang pertama dengan oknum yang kedua adalah 'keanakan' dan 'keBapaan'. Sedang anak bukan Bapa dan Bapa bukan anak.
Jadi nyata kembali bahwa Tuhan sudah tidak Esa lagi.
Oleh karena itulah setiap orang yang mau mempergunakan akal pikirannya dengan baik dan benar akan menganggap bahwa Kristen Trinitas, bukanlah termasuk dalam golongan agama yang mengEsakan Tuhan, selama ia masih mengajarkan Tuhan itu memiliki tiga oknum seperti yang dijelaskan diatas.
Dengan begitu, maka nyata sudah bahwa ajaran itu bertentangan dengan ajaran semua Nabi-nabi yang terdahulu yang mengajarkan bahwa Tuhan itu adalah Esa dalam arti yang sebenarnya.
Adam tidak pernah menyebut bahwa Tuhan itu ada tiga, Abraham, Daud, Musa, Isa dan nabi-nabi sebelum mereka sampai pada Nabi Muhammad Saw juga tidak pernah mengajarkan keTritunggalan Tuhan.
Malah mereka semuanya adalah sederetan nabi-nabi yang telah susah payah, telah mengorbankan harga diri dan jiwa raganya demi menegakkan kalimah Tauhid, Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Tuhan yang satu, Tuhan yang bernama Allah (Swt).
Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan keturunannya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa serta Nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membedakan seorangpun di antara mereka dan kepadaNya lah kami menyerahkan diri".
(QS. Ali Imran 3:84)
Dalam sebuah Hadistnya, Rasulullah Saw bersabda :
"Nabi-nabi itu adalah bersaudara yang bukan satu ibu, ibunya bermacam-macam, namun agamanya satu."
(HR. al-Saikhan dan Abu Daud)
Dalam satu studi banding antara AlQur'an plus Sunnah dan Bible yang meliputi Old Testament dan New Testament plus surat-surat kiriman jo riwayat perbuatan para Rasul (The Acts), apa yang diungkapkan Islam tentang ke-Esaan Allah mendapatkan satu titik temu.
Dalam kitab Ulangan 4:35 disebutkan :
"Kepada kalianlah dia itu ditunjuk, supaya engkau ketahui bahwa YÁOHU UL itulah ULHÍM; tidak ada yang lain selain Dia."
Ulangan 6:4 "Dengarlah oleh mu wahai Israel ! Sesungguhnya YÁOHU UL adalah Tuhan kita; dan YÁOHU UL itu satu adanya."
Isaiah 45:21"Dan tidak ada ULHÍM lain selain Ku; hanya ada ULHÍM sang penyelamat; Tidak ada siapapun beserta-Ku."
Isaiah 45:22 "Ikutilah Aku, dan kalian akan diselamatkan, semua yang ada diujung dunia: bahwa Aku lah ULHÍM dan tidak ada yang lain."
Jeremiah 10:10,"Namun, YÁOHU UL itulah ULHÍM yang sebenarnya. Dia-lah ULHÍM yang hidup dan penguasa yang sejati."
Galatia 3:20 "Tetapi YÁOHU UL adalah satu".
1 Timothy 1:17"Sekarang menuju kepada penguasa abadi, tidak berkesudahan, tidak terlihat, hanyalah ULHÍM yang bijaksana, menjadi kehormatan dan kemuliaan selama-lamanya."
James 2:19"Kamu mengimani bahwa hanyalah ada satu ULHÍM, dan pun Setan mengimaninya ... lalu menggeletar."
YAOHÚSHUA alias Jesus The Messias alias 'Isa Almasih as, berulang kali menyatakan ke-Esaan Tuhan yang dalam bahasa Ibrani purbakala disebut dengan ULHÍM.
John 17:3
"Dan inilah hidup yang abadi, bahwa mereka mengenal Engkau, ULHÍM yang benar, dan al-masih yang telah Engkau utus."
Mark 12:29
"Dan YAOHÚSHUA menjawabnya, Hukum yang terutama adalah, dengarlah wahai Israel, adapun YÁOHU UL adalah Elohim kita, YÁOHU UL itu satu adanya."
Kembali pada masalah konsep Tritunggal atau Trinitas, seperti yang diterangkan, ketiga Tuhan ini berbeda satu sama lain. Oknum yang pertama terbeda dengan Ke-Bapaan.
Oknum kedua terbeda dengan Keanakan yang menjadi manusia.
Dan oknum ketiga terbeda dengan keluarnya dari Allah Bapa dan dari Allah anak.
Perbedaan itu merupakan perbedaan yang hakiki, yaitu Bapa bukan anak dan anak bukan Roh Kudus.
Apabila sesuatu menjadi perbedaan dan keistimewaan pada satu oknum, maka perbedaan dan keistimewaan itu harus ada pada zatnya.
Misalnya, satu oknum memiliki perbedaan dan keistimewaan menjadi anak, maka zatnya harus turut menjadi anak.
Artinya zat itu adalah zat anak. Karena oknum tersebut tidak dapat terpisah daripada zatnya sendiri. Apabila perbedaan dan keistimewaan itu ada pada zatnya, maka ia harus adapula pada zat Allah, karena zat keduanya hanya satu.
Oleh karena sesuatu tadi menjadi perbedaan dan keistimewaan pada satu oknum maka ia tidak mungkin ada pada oknum yang lain. Menurut misal tadi, keistimewaan menjadi anak tidak mungkin ada pada oknum Bapa.
Apabila ia tidak ada pada oknum Bapa, maka ia tidak ada pada zatnya.
Apabila ia tidak ada pada zatnya, maka ia tidak ada pada zat Allah.
Karena zat Bapa dengan zat Allah adalah satu.
Dengan demikian terjadilah pada saat yang satu, ada sifat keistimewaan tersebut pada zat Allah dan tidak ada sifat keistimewaan itu pada zat Allah.
Misalnya, anak menjadi manusia.
Apabila anak menjadi manusia, maka zat Allah harus menjadi manusia karena zat mereka satu.
Selanjutnya disebut pula bahwa Bapa tidak menjadi manusia.
Dengan demikian berarti pula bahwa zat Allah tidak menjadi manusia.
Maka pada saat zat Allah akan disebut menjadi manusia dan zat Allah tidak menjadi manusia, maka ini menjadi dua yang bertentangan dan mustahil akan dapat terjadi.
Konsep Tuhan Bapa, Tuhan anak dan Tuhan Roh Kudus hanya dapat dipelajari dan dapat diterima jika mereka mendefenisikannya sebagai 3 sosok Tuhan yang berbeda dan terlepas satu sama lainnya, dalam pengertian diakui bahwa Tuhan bukan satu atau Esa, melainkan tiga.
Jika betul Tuhan itu Esa dan Dia telah menjelma atau berinkarnasi menjadi manusia yaitu Jesus, tentu dilangit sudah tidak lagi ada Tuhan. Hal ini dapat kita bandingkan dalam cerita pewayangan, dimana Bathara Ismaya ketika dia berada dikahyangan ia adalah seorang Bathara (dewa), tetapi jika ia turun kebumi dan menjelma menjadi Semar sebagai panakawan Arjuna.
Dan apabila Bathara Ismaya ini menjelma menjadi Semar didunia, maka dikahyangan tidak lagi ada Bathara Ismaya itu. Dan jika dia berada di Kahyangan sebagai Bathara Ismaya, maka dibumi tidak ada Semar, sehingga para panakawan kehilangan Semar.
Lalu bisakah hal ini kita terapkan pada Jesus ? Sayangnya justru tidak bisa.
Dimana Jesus ada didunia, maka dilangit Tuhan masih ada.
Bahkan dalam beberapa pasal Bible nyata-nyata kita dapati bahwa Tuhan berbeda dengan Jesus dan berbeda pula dengan Roh Kudus yang dalam teologi Nasrani juga merupakan bagian dari Tuhan.
Sebagaimana juga yang kita ketahui, klaim pihak Kristen Trinitas bahwa Allah Bapa, Allah anak dan Allah Roh Kudus bersifat Kadim, Alpha dan Omega, tidak berawal dan tidak berakhir.
Tapi benarkah pendapat demikian ?
Kita tinjau dari Tuhan anak yang diperankan oleh Yesus saja pendapat yang demikian sudah bisa kita pentalkan.
Yesus baru ada ketika dia dilahirkan oleh Siti Maryam atau dalam agama Kristen disebut sebagai Mariah.
Sebelum Mariah melahirkannya, tidak pernah ada Tuhan yang bernama Yesus ini.
Sebagaimana juga yang kita ketahui, pemahaman Trinitas mengajarkan bahwa Allah Bapa, Allah anak dan Allah Roh Kudus bersifat Kadim, Alpha dan Omega, tidak berawal dan tidak berakhir.
Tapi benarkah pendapat demikian ?
Kita tinjau dari Tuhan anak yang diperankan oleh Yesus saja pendapat yang demikian sudah bisa kita gugurkan. Yesus baru ada ketika dia dilahirkan oleh Siti Maryam atau dalam agama Kristen disebut sebagai Mariah. Sebelum Mariah melahirkannya, tidak pernah ada Tuhan yang bernama Yesus ini.
Memang ada ayat yang konon kabarnya Yesus mengakui bahwa dia sudah ada sebelum Abraham ada, tapi benarkah demikian adanya ?
Siapakah nama beliau sebelum dilahirkan oleh Mariah dengan nama Yesus ?
Kemana gerangan Tuhan Yesus sebelum-sebelumnya ?
Ada dimana Tuhan Yesus ketika Adam diciptakan pertama kali ?
Ada dimana pula Tuhan Yesus ketika Abraham, Daud, Sulaiman, Musa diutus ?
Lanjut pemahaman kaum Trinitas ini, Allah bukannya barulah menjadi Bapa oleh kelahiran Yesus di Betlehem, melainkan sedari kekal, ia adalah juga Allah Bapa.
Yesus bukanlah menjadi anak ALlah pada saat kelahirannya di Betlehem, melainkan sedari kekal ia adalah anak Allah.
(Dr. G.C. Van Niftrik & Ds. B.J. Boland dalam bukunya Dogmatika masa kini halaman 151)
Mengenai hal ini harus kita ketahui bahwa akal manusia dapat membenarkan, Bapa yang sebenarnya harus lebih dahulu daripada anak yang sebenarnya.
Akal manusia tidak dapat membenarkan anak lebih dahulu daripada Bapa atau anak bersama-sama ada dengan Bapa.
Apabila Allah Bapa telah terbeda daripada anak Allah dari kadim, maka anak Allah itu tidak dapat disebut 'diperanakkan' oleh Allah Bapa.
Karena Allah Bapa dan anak Allah ketika itu sama-sama kadim, Alpha dan Omega, sama-sama tidak berpermulaan dan tidak ada yang lebih dahulu dan yang lebih kemudian wujudnya.
Apabila ia disebut diperanakkan, maka yang demikian menunjukkan bahwa ia terkemudian daripada Bapa.
Karena anak yang sebenarnya harus terkemudian daripada Bapanya yang sebenarnya.
Oleh karena itu ajaran Trinitas yang menyatakan bahwa anak dengan Bapa sama-sama kadim, alpha dan omega, sama-sama tidak berpermulaan dan tidak saling dahulu mendahului tidak akan masuk akal dan adalah suatu kejadian yang mustahil.
Seterusnya ajaran Trinitas yang mengatakan bahwa Roh Kudus keluar dari sang Bapa dan sang anak (lihat : Pengakuan Nicea-Konstantinopel dalam buku Dogmatika Masa kini hal. 433), adalah juga ajaran yang tidak masuk akal.
Apabila Bapa telah terbeda dari kadim, anak telah terbeda dari kadim dan Roh Kudus telah terbeda dari kadim, maka ketiga-tiganya telah ada diluar dari kadim.
Dengan demikian Roh Kudus tidak dapat disebut telah keluar dari sang Bapa dan sang anak, karena ia memang telah ada diluar dari kadim seperti Bapa dan anak telah ada diluar.
Sesungguhnya, ajaran-ajaran seperti ini adalah tidak mungkin terjadi.
Tuhan tidak akan merubah hukum yang telah dibuat olehNya sendiri, dan Allah tidak menyukai kekacauan
(1 Korintus 14:33).
Segala sesuatu itu memiliki aturan permainan masing-masing, dan tidak akan ada perubahan dari hukum-hukum alam itu (sunatullah).
"Katakan: Dialah Allâh yang Esa. Allâh tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada bagi-Nya kesetaraan dengan apapun."
(Qs. Al-Ikhlash 112:1-4)
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agamamu, dan janganlah mengatakan tentang Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih, Isa putera Maryam itu, hanyalah Rasul Allah dan kalimah-Nya, yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan ruh daripada-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Dan janganlah kamu katakan:"Tritunggal !", Jangan teruskan. (Itu) lebih baik bagimu. Sungguh, Allah adalah Tuhan satu, Maha Suci Ia dari mempunyai anak, kepunyaan-Nya segala yang di langit dan segala yang di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung".
(Qs. An-Nisa' 4:171)


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link: