Rabu, 29 Juli 2015

Hukum menjual koran dan majalah yang di dalamnya ada gambar-gambar telanjang

Pertanyaan:
Apakah boleh toko buku menjual koran dan majalah yang di dalamnya ada
gambar-gambar telanjang (terbuka) dan berita-berita bohong serta puji-pujian
kepada orang-orang fasik dan munafik ?

Bolehkah menjual kitab-kitab yang berisi keyakinan (aqidah), pemikiran-pemikiran
dan hukum-hukum (fiqh) yang menyelisihi Salafus Shalih yang bertujuan
mengalahkan kitab-kitab Salafiyah ?

Jawaban:
Majalah-majalah yang didalamnya ada gambar-gambar terbuka dan telanjang
(porno) , janganlah bimbang untuk tidak menjualnya. Karena menjualnya adalah
haram.

Adapun kitab-kitab hukum yang lain, bagi orang yang tunduk pada batas-batas
syar'i, supaya mengenal yang terkandung dalam buku tersebut, baik berupa
pendapat (ide) maupun hukum-hukum, maka pada saat itu, hukumnya boleh atau
tidak, berkaitan dengan isi yang dominan dalam buku tersebut. Jika yang dominan
itu adalah kebenaran maka boleh menjualnya. Jika tidak, maka tidak boleh
mengatakan secara mutlak (tanpa batasan-batasan syar'i) tentang boleh
menjualnya.

Seseorang tidak akan mendapatkan kitab yang lepas dari kesalahan selain
Kitabullah. Jadi apabila dikatakan tidak boleh menjual kitab yang didalamnya ada
kesalahan, maka ketika itu tidak boleh menjualnya (kitab apapun). Jadi dalam
memperhatikan masalah tersebut, harus dilihat dari isi yang dominan dalam buku
itu.

(Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, [Al-Ashalah 10/15 Syawal 1414H,
hal.38, Edisi Indonesia '25 Fatwa Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani', Optima Semarang, 1995)

Sponsor link:


Kapan seorang wanita diperbolehkan memakai pil-pil pencegah kehamilan,

Pertanyaan.
"Kapan seorang wanita diperbolehkan memakai pil-pil pencegah kehamilan, dan kapan hal itu
diharamkan ? Adakah nash yang tegas atau pendapat di dalam fiqih dalam masalah KB? Dan
bolehkah seorang muslim melakukan azal kerika berjima tanpa sebab?"

Jawaban.
Seyogyanya bagi kaum msulimin untuk memperbanyak keturunan sebanyak mungkin, karena
hal itu adalah perkara yang diarahkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya.
"Artinya : Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak karena aku akan berlomba
dalam banyak jumlahnya umat" [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/320, Nasa'i
2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]
Dan karena banyaknya umat menyebabkan (cepat bertambahnya) banyaknya umat, dan
banyaknya umat merupakan salah satu sebab kemuliaan umat, sebagaimana firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala ketika menyebutkan nikmat-Nya kepada Bani Israil.

"Artinya : Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar" [Al-Isra' : 6]
"Artinya : Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak
jumlah kamu" [Al-A'raf : 86]
Dan tidak ada seorangpun mengingkari bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemuliaan
dan kekuatan suatu umat, tidak sebagaimana anggapan orang-orang yang memiliki prasangka
yang jelek, (yang mereka) menganggap bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemiskinan
dan kelaparan. Jika suatu umat jumlahnya banyak dan mereka bersandar dan beriman dengan
janji Allah dan firman-Nya.

"Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rezekinya" [Hud : 6]
Maka Allah pasti akan mempermudah umat tersebut dan mencukupi umat tersebut dengan
karunia-Nya.

Berdasarkan penjelasan ini, jelaslah jawaban pertanyaan di atas, maka tidak sepantasnya
bagi seorang wanita untuk mengkonsumsi pil-pil pencegah kehamilan kecuali dengan dua
syarat.

[a] Adanya keperluan seperti ; Wanita tersebut memiliki penyakit yang menghalanginya untuk
hamil setiap tahun, atau, wanita tersebut bertubuh kurus kering, atau adanya
penghalang-penghalang lain yang membahayakannya jika dia hamil tiap tahun.
[b] Adanya ijin dari suami. Karena suami memiliki hak atas istri dalam masalah anak dan
keturunan. Disamping itu juga harus bermusyawarah dengan dokter terpercaya di dalam
masalah mengkonsumsi pil-pil ini, apakah pemakaiannya membahayakan atau tidak.
Jika dua syarat di atas dipenuhi maka tidak mengapa mengkonsumsi pil-pil ini, akan tetapi hal
ini tidak boleh dilakukan terus menerus, dengan cara mengkonsumsi pil pencegah kehamilan
selamanya misalnya, karena hal ini berarti memutus keturunan.

Adapun point kedua dari pertanyaan di atas maka jawabannya adalah sebagai berikut :
Pembatasan keturunan adalah perkara yang tidak mungkin ada dalam kenyataan karena
masalah hamil dan tidak, seluruhnya di tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika seseorang
membatasi jumlah anak dengan jumlah tertentu, maka mungkin saja seluruhnya mati dalam
jangka waktu satu tahun, sehingga orang tersebut tidak lagi memiliki anak dan keturunan.
Masalah pembatas keturunan adalah perkara yang tidak terdapat dalam syari'at Islam, namun
pencegahan kehamilan secara tegas dihukumi sebagaimana keterangan di atas.
Adapun pertanyaan ketiga yang berkaitan dengan 'azal ketika berjima' tanpa adanya sebab,
maka pendapat para ahli ilmu yang benar adalah tidak mengapa karena hadits dari Jabir
Radhiyallahu 'anhu.

"Artinya : Kami melakukan 'azal sedangkan Al-Qur'an masih turun (yakni dimasa nabi
Shallallahu 'alihi wa sallam)" [Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud 1/320 ; Nasa'i 2/71, Ibnu
Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu nu'aim dalam Al-hilyah 3/61-62]
Seandainya perbuatan itu haram pasti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarangnya.
Akan tetapi para ahli ilmu mengatakan bahwa tidak boleh ber'azal terhadap wanita merdeka
(bukan budak) kecuali dengan ijinya, yakni seorang suami tidak boleh ber'azal terhadap istri,
karena sang istri memiliki hak dalam masalah keturunan. Dan ber'azal tanpa ijin istri
mengurangi rasa nikmat seorang wanita, karena kenikmatan seorang wanita tidaklah
sempurna kecuali sesudah tumpahnya air mani suami.

Berdasarkan keterangan ini maka 'azal tanpa ijin berarti menghilangkan kesempurnaan rasa
nikmat yang dirasakan seorang istri, dan juga menghilangkan adanya kemungkinan untuk
mendapatkan keturunan. Karena ini kami menysaratkan adanya ijin dari sang istri".
Fatawa Syaikh ibnu Utsaimin Juj 2 hal. 764 dinukil dari Fatawa Li'umumil Ummah

Sponsor link:


Apa hukumnya shalat di masjid yang terdapat kuburan

Tanya : Apa hukumnya shalat di masjid yang terdapat kuburan ?

Jawab : Tidak diperbolehkan bagi setiap muslim untuk shalat didalam masjid yang
terdapat didalamnya kuburan. Dalilnya sebagaimana terdapat riwayat dalam
Ash-shahihain dari Aisyah radiallahu-anha bahwa Ummu Salamah menyebutkan
kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wassalam adanya gereja yang dia lihat di negri
Habasyah dan didalamnya terdapat gambar-gambar, maka Rasulullah Shalallahu
'alaihi Wassalam bersabda: “ Mereka adalah seburuk-buruknya makhluk disisi Allah
“, diantara dalil yang lain adalah apa yang diriwayatkan Ahlussunan dari Ibnu Abbas
radialluanhuma dia berkata: “ Rasulullah melaknat para wanita yang menziarahi
kuburan dan yang membangun masjid diatas kuburan serta meletakkan
penerangan (lampu) “.

Terdapat juga dalam Ash-Shahihain (riwayat Bukhari dan Muslim) dari Aisyah
radiallahu 'anha bahwa dia berkata : Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wassalam
bersabda: “ Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka
menjadikan kuburan para nabinya sebagai masjid “.

(Kumpulan Fatwa-Fatwa Lajnah Daimah)

Sponsor link:


Pertanyaan :
Hadits : Barang siapa hendak berqurban atau orang lain berqurban
untuknya, maka dari awal bulan dzulhijjah janganlah dia memotong rambut atau
kukunya, sampai dia selesai berqurban, maka apakah larangan ini untuk seluruh
keluarganya, yang dewasa dan belum dewasa atau khusus untuk yang sudah
dewasa saja ?

Jawab :
Kami tidak mengetahui bahwa lafadz hadits sebagaimana penanya sebutkan, dan
lafadz yang kami ketahui sebagaimana diriwayatkan oleh Jama'ah kecuali Bukhari
dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha adalah bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : (Jika kalian melihat awal bulan
Dzulhijjah dan seseorang di antara kamu ingin berqurban, maka hendaklah ia
menahan (dari memotong) rambut dan kukunya. Dan lafadz riwayat Abu Daud,
Muslim dan
Nasa'I : ( Barang siapa mempunyai sembelihan (hewan
qurban) yang akan disembelihnya, maka jika telah terbit bulan sabit dari bulan
Dzulhijjah, maka janganlah dia mengambil ( memotong ) dari rambut dan kukunya
sampai dia menyembelih ).
Hadits ini menunjukkan larangan dari memotong sebagian rambut atau kuku
setelah masuknya sepuluh pertama bulan
Dzulhijjah bagi mereka yang hendak menyembelih hewan qurban, dan dalam
riwayat yang pertama terdapat perintah dan menahan, dan perintah menunjukkan
suatu
kewajiban dan kami tidak mengetahui ada dalil lain yang memalingkannya dari
ma'na asli (wajib) dan dalam riwayat yang kedua ada larangan dari memotong, dan
larangan menunjukkan haram, maksud kami, keharaman memotong, dan kami
tidak mengetahui adanya dalil yang memalingkan dari ma'na haram tersebut,
dengan demikian
jelaslah bahwa hadits ini khusus bagi orang yang akan menyembelih saja, adapun
orang yang disembelihkan baginya baik dewasa ataupun belum dewasa, maka tidak
ada larangan bagi mereka untuk memotong sebagian rambut atau kukunya
berdasarkan hukum asal yaitu boleh, dan tidak ada dalil yang menunjukkan hukum
yang bertentangan dari hukum asal itu ( boleh ).

Sponsor link:


Hukum Menyembelih Qurban

Pertanyaan:
Bolehkah berpatungan ( urunan/ berserikat ) dalam menyembelih hewan qurban,
dan berapa jumlah orang yang
berpatungan dalam satu ekor hewan qurban, apakah mereka harus dari satu
keluarga, dan apakah berpatungan dalam berqurban termasuk perbuatan bid'ah ?

Jawab :
Sseseorang boleh berqurban untuk dirinya dan
keluarganya dengan seekor kambing, dalilnya adalah bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam berqurban dengan seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya.

HR. Bukhari dan Muslim. dan bahwa 'Atha bin Yasar berkata : hai Abu Ayyub !
bagaimanakah berqurban di antara kalian (para sahabat) di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam ? maka dia menjawab : adalah seseorang diantara kita di zaman Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam berqurban dengan
menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya, lalu mereka makan
dan memberi makan orang lain ( dengan daging tsb ) sampai banyak orang saling
berbangga lalu menjadi seperti yang engkau saksikan. (HR. Malik, Ibnu Majah, dan
Tirmidzi, dan Tirmidzi berkata : hadits hasan shahih)

Dan syah menyembelih seekor unta atau sapi untuk tujuh orang, baik mereka itu
dari satu keluarga atau bukan, baik mereka ada hubungan keluarga atau tidak,
karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengizinkan para sahabat untuk
berserikat ( patungan/ urunan ) dalam menyembelih seekor unta atau sapi, setiap
tujuh orang seekor sapi/ unta, dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak merinci itu
semua.
Wallahu A'lam

Sponsor link:


Bagaimana hukum menonton film, sandiwara, televisi ?

Tanya : Bagaimana hukumnya sandiwara (sinetron, film, red) ?

Jawab : Sandiwara, saya katakan tidak boleh karena:
Pertama: Di dalamnya melalaikan orang yang hadir, mereka
memperhatikan gerakan-gerakan pemain sandiwara dan mereka
senang(tertawa). Di dalamnya mengandung unsur menyia-nyiakan waktu.
Orang Islam akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap waktunya.
Dia dituntut untuk memelihara dan mengambil faedah dari waktunya,
untuk mengamalkan apa-apa yang diridhai oleh Allah Ta'ala, sehingga
manfaatnya kembali kepadanya baik di dunia maupun di akhirat.
Sebagaimana hadits Abu Barzah Al-Aslamy, dia berkata,'Telah bersabda
Rasulullah, "Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat
sehingga ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan. tentang
hartanya darimana dia dapatkan, dan untuk apa dia infakkan. tentang
badannya untuk apa dia kerahkan. " [Dikeluarkan Imam At Tirmidzi (2417)
dan dia menshahihkannya]

Umumnya sandiwara itu dusta. Bisa jadi memberi pengaruh bagi orang
yang hadir dan menyaksikan atau memikat perhatian mereka atau bahkan
membuat mereka tertawa. Itu bagian dari cerita-cerita khayalan. Sungguh
telah ada ancaman dari Rasulullah bagi orang yang berdusta untuk
menertawakan manusia dengan ancaman yang keras. Yakni dari Muawiyah
bin Haidah bahwasanya Rasulullah bersabda,
"Celaka bagi orang-orang yang berbicara(mengabarkan) sedangkan dia
dusta (dalam pembicaraannya) supaya suatu kaum tertawa maka celakalah
bagi dia, celakalah bagi dia."[Hadits hasan dikeluarkan oleh Hakim(I/46),
Ahmad(V/35) dan At-Tirmidzi(2315).]

Mengiringi hadits ini Syaikh Islam berkata,'Dan sungguh Ibnu Mas'ud
berkata,
"Sesungguhnya dusta itu tidak benar baik sungguh-sungguh maupun
bercanda."

Adapun apabila dusta itu menimbulkan permusuhan atas kaum muslimin
dan membahayakan atas dien tentu lebih keras lagi larangannya.
Bagaimanapun pelakunya yang menertawakan suatu kaum dengan
kedustaan berhak mendapat hukuman secara syar'i yang bisa menghalangi
dari perbuatannya itu.[Majmu Fatawa(32/256)]

Sponsor link:


Selasa, 28 Juli 2015

Hukum mengejek sunnah Rasulullah ttg jenggot dll

Bagian 2:

Apabila penghinaan itu dikarenakan syariat atau ajaran agama yang dia pegang,
maka penghinaan tersebut masuk dalam penghinaan terhadap syariat, dan
menghina syariat adalah kekufuran. Jika penghinaan tersebut semata-mata hanya
ditujukan kepada orang (pribadi) yang bersangkutan tanpa adanya unsur
penghinaan terhadap apa yang ia pegang berupa ajaran agama atau sunnah maka
tidak masuk kategori kafir. Sebab boleh jadi seseorang menghina orang lain secara
pribadinya saja, dan tidak mangaitklan sama sekali dengan amal yang
dilaku-kannya, namun hal ini juga merupakan sesuatu yang sangat berbahaya.

Yang seharusnya adalah memberikan dorongan kepada orang tersebut agar tetap
berpegang dengan syariat Allah serta mendukungnya, bukan menghinanya. Apabila
dirinya memang memiliki kesalahan, maka hendaknya diluruskan sesuai dengan
kesalahan yang dia kerjakan. (Syaikh Ibnu Utsaimin)
Tanya:Bagaimana hukumnya mengejek orang yang memanjangkan jenggot atau
mengangkat pakaian (celana) diatas mata kakinya?

Jawab: Barang siapa yang menghina orang yang memelihara jenggot atau
mengangkat pakaiannya di atas mata kaki, padahal ia tahu bahwa itu adalah syariat
Allah maka ia telah meng-hina syariat Allah tersebut. Namun jika dia menghinanya
selaku pribadi, karena adanya faktor pendorong yang sifat-nya pribadi pula, makaia
tidak dikafir-kan dengan perbuatan itu. (Syaikh Ibnu Utsaimin)
Tanya: "Apa hukum syara' terhadap orang yang mengejek orang yang berjenggot
dengan memang-gilnya, "Hai si jenggot! Mohon untuk dijelaskan.

Jawab: “Mengolok-olok jenggot adalah kemungkaran yang besar, kalau dia
mengucapkannya dengan tujuan menghina jenggot, maka itu adalah kufur, namun
jika karena panggilan julukan atau pengenal (karena dengan menyebut nama saja
belum tentu tahu yang dimaksudkan, red) maka tidak masuk dalam kekufuran.
Namun tidak selayaknya menjuluki atau memanggil orang dengan panggilan seperti
ini. Sebab dikhawatirkan masuk dalam golongan yang difirmankan Allah dalam surat
at-Taubah 65-66 (lihat diatas, red). (al-Lajnah ad-Daimah)

Tanya: Apa hukumnya menge-jek wanita muslimah yang mengenakan hijab syar'I
dengan menyebutnya sebagai 'ifritah (jin Ifrit wanita/ hantu, red) atau kemah yang
berjalan, dan kalimat-kalimat lain yang sifatnya mengejek?

Jawab: Barang siapa yang menghina seorang muslim atau muslimah dikarenakan
ajaran syariat yang dia pegang maka dia adalah kafir, baik itu dalam masalah hijab
syar'i atau yang selainnya.

Sponsor link:


Tuntunan Ulama' Salaf dalam menyikapi hari raya non muslim

Bagian 1:

Tanya:
Apakah boleh memberikan ucapan selamat hari raya atau yang lainnya kepada
orang orang Masihiyun (penganut ajaran Isa al Masih)?

Jawab:
Yang benar adalah jika kita mengatakan : Orang-orang nasrani, karena kalimat
masihiyun berarti menisbatkan syariat (yang di bawah Nabi Isa) kepada agama
mereka, artinya mereka menisbatkan diri mereka kepada Al-Masih Isa bin Maryam.
Padahal telah diketahui bahwa Isa bin Maryam Alaihissalam telah membawa kabar
gembira untuk Bani Israil dengan(kedatangan) Muhammad.

Allah Subhanahu wa Taala berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam
berkata: `Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu,
membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar
gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang
namanya Ahmad (Muhammad)`. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka
dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang
nyata" (Ash-Shaff: 6).

Maka jika mereka mengkafiri/mengingkari Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa
Sallam maka berarti mereka telah mengkafiri Isa, kerena mereka telah menolak
kabar gembira yang beliau sampaikan kepada mereka. Dan oleh karena itu kita
mensifati mereka dengan apa yang disifatkan Allah atas mereka dalam Al-Qur`an
dan dengan apa yang disifatkan oleh Rasulullah Shallallahu wa `alaihi wa Sallam
dalam As-Sunnah, dan yang disifatkan/digambarkan oleh para ulama muslimin
dengan sifat ini yaitu bahwa mereka adalah nashrani sehingga kitapun mengatakan:
sesungguhnya orang-orang nashrani jika mengkafiri Muhammad Shallallahu wa
`alaihi wa Sallam maka sebenarnya mereka telah mengkafiri Isa bin Maryam.
Akan tetapi mereka mengatakan: Sesungguhnya Isa bin Maryam telah memberi
kabar gembira kepada kami dengan seorang rasul yang akan datang sesudahnya
yang namanya Ahmad, sementara yang datang namanya adalah Muhammad. Maka
kami menanti (rasul yang bernama) Ahmad, sedangkan Muhammad adalah
bukanlah yang dikabargembirakan oleh Isa. Maka apakah jawaban atas
penyimpangan ini?

Jawabannya adalah kita mengatakan bahwa Allah telah berfirman: Maka ketika ia
(Muhammad) datang kepada mereka dengan penjelasan-penjelasan¡. Ayat ini
menunjukkan bahwa rasul tersebut telah datang; dan apakah telah datang kepada
mereka seorang rasul selain Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa Sallam setelah
Isa? Tentu saja tidak, tidak seorang rasulpun yang datang sesudah Isa selain
Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa Sallam. Dan berdasarkan ini maka wajiblah
atas mereka untuk beriman kepada Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa Sallam
dan juga kepada Isa `Alaihissalam.

Rasul telah beriman kepada Al-Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,
demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah,
Malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya (mereka mengakatan):
`Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari
rasul-rasulNya.¡¦ (Al-Baqarah:285)

Oleh karena itu Nabi Shallallahu wa `alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa yang
bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa
Muhammad adalah utusan Allah dan bahwa Isa adalah hamba dan utusan
Allah(Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3435 dalam kitab
Ahaditsul Anbiya` bab Qauluhu Ta`ala: Ya Ahal Kitabi La Taghlul Fi Dinikum, dan oleh
Muslim no. 28 dalam kitab Al-Iman bab Ad-Dalil `Alaa Inna Man Maata `Alat Tauhiid
Dakhalal Jannah Qath`an dari hadits `Ubadah bin Ash-Shamit Radhiallahu Anhu).
Maka tidak sempurna iman kita kecuali dengan beriman kepada Isa Alaihissalam dan
bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah, sehingga kita tidak mengatakan
sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang nashrani; bahwa ia adalah putra
Allah, dan tidak (pula mengatakan) bahwa ia adalah tuhan.

Dan kita tidak pula
mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh orang yahudi: bahwa beliau adalah
pendusta dan bukan seorang Rasul dari Allah, akan tetapi kita mengatkan bahwa
Isa di utus kepada kaumnya dan bahwa syariat Isa dan nabi-nabi yang lainnya telah
dihapus oleh syariat Nabi Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa Sallam.

Adapun memberi ucapan selamat hari raya kepada orang-orang nashrani atau
yahudi maka ia adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama sebagaimana
disebutkan Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab Ahkam Ahli Adz-Dzimmah, dan
silahkan anda membaca teks tulisan beliau: "Dan adapun memberikan ucapan
selamat untuk syiar-syiar kekufuran yang bersifat khusus maka ia adalah haram
secara ijma`, seperti mengucapkan selama untuk hari raya dan puasa mereka
dengan mengatakan : "hari raya yang diberkahi untuk anda¡¦ Maka yang seperti ini
kalaupun orang yang mengucapkan selamat dari kekufuran maka perbuatan itu
termasuk yang diharamkan.

Dan ia sama dengan memberikan selamat untuk
ujudnya kepada salib. Bahkan itu lebih besar dosanya dan lebih dimurkai oleh Allah
daripada memberikan selamat atas perbuatannya meminum khamar, membunuh,
melakukan zina dan yang semacamnya. Dan banyak orang yang tidak memiliki
penghormatan terhadap Ad-dien terjatuh dalam hal itu dan ia tidak mengetahui apa
yang telah ia lakukan". Selesai tulisan beliau.

(Dinukil dari Ash-Shahwah Al-Islamiyah, Dhawabith wa taujihat, oleh Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

Sponsor link:


Dalil-dalil dan hukum mencukur jenggot/lihyah bagi laki-laki

"Berkata al-Bukhari : Ibn Umar menipiskan kumisnya sehingga kelihatan kulitnya
yang putih dan memelihara jenggot dan jambangnya". Lihat: Fathulbari, jild 10, :
334.
"Semasa Ibn Umar mengerjakan haji atau umrah, beliau menggenggam
jenggotnya, mana yang lebih (dari genggamannya) dipotong". HR al-Bukhari.
Hadits-hadits di atas bukan saja menjelaskan suatu contoh perbuatan Nabi
Muhammad, para nabi sebelum Rasulullah dan juga para sahabat yang semua
mereka memelihara jenggot. Malah hadits-hadits di atas juga merupakan lanjutan
yang berupa perintah dari nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad
Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam meneruskan perintah (lanjutan)
tersebut ke atas orang-orang yang beriman supaya memelihara jenggot mereka.
Anehnya, dalam hal perintah yang nyata ini dirasakan sukar difahami oleh
segolongan para mufti, hakim, imam, ustadz dan alim ulama yang bertebaran di
negara ini. Apakah mereka tidak pernah terjumpa (terbaca) walaupun sepotong
dari beberapa hadits-hadits sahih sebagaimana yang tercatit di atas yang
mewajibkan memelihara jenggot sehingga mereka tidak sudi memeliharanya? Jika
sekiranya mereka telah terbaca salah satu dari hadits-hadits tersebut mengapa pula
tidak mau menerima dan mentaatinya?

Apakah mereka merupakan ulama buta,
tuli, pekak dan bisu sehingga tidak dapat melihat, memahami, mengetahui dan
menyampaikan sebegitu banyaknya hadits-hadits sahih yang memperkatakan
tentang jenggot? Mengapa pula perintah dan larangan syara sebagaimana yang
terdapat di dalam firman Allah di bawah ini tidak mereka sadari ? "Dan apa yang
disampaikan oleh Rasul maka hendaklah kamu ambil (patuhi) dan apa yang ditegah
kamu (dari melakukannya) maka hendaklah kamu tinggalkan". AL Hasyr, 59:7.
Ayat di atas memberi penekanan agar setiap orang-orang yang beriman bersikap
patuh (taat), sama ada patuh dengan cara melaksanakan segala apa yang disuruh
oleh Allah dan RasulNya atau patuh dengan cara meninggalkan segala apa yang
telah dilarang atau diharamkan.

Orang-orang yang beriman tidak boleh mencontoh sikap Iblis yang enggan
mematuhi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila diarah supaya sujud kepada
Nabi Adam ‘alaihissalam. Iblis dilaknat karena mengingkari satu perintah Allah.
Keengganan mematuhi perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam identik seperti
mengingkari perintah Allah karena mentaati Rasulullah adalah asas mentaati Allah,
maka mereka yang tidak mau mematuhi atau mentaati perintah Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang diulang berkali-kali supaya memelihara jenggot dan
jambang dengan alasan berjenggot itu tidak rapi, serabutan, kelihatan jelek dan
sebagainya. Maka keingkaran dan alasan seperti ini ditakuti menyerupai alasan Iblis
dan petanda yang mereka telah mewarisi sikap Iblis yang congkak, biadab, bangga
diri dan akhirnya ia dikekalkan di neraka hanya lantaran tidak mau mematuhi
satu-satunya perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu sujud kepada bapa sekalian
manusia..

Sponsor link:


Hukum mencukur jenggot karena takut timbul bahaya

Tanya :
Sejak beberapa tahun ini saya mengenal Dienul Islam -walillahil hamd- , Allah telah
memberi hidayah sehingga saya dan dua orang saudara saya bersedia memelihara
jenggot. Sunnah Rasulullah ini kemudian diikuti oleh sebagian anggota keluarga.
Alhamdulillah kami mampu menciptakan suasana islami di dalam rumah.
Saudara-saudara wanita saya mengenakan busana muslimah dan kami senantiasa
menerapkan ajaran-ajaran Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan kemampuan
kami. Kemudian terjadilah fitnah (kekacauan) di negeri kami, masyarakat berubah
membenci orang-orang berjenggot dan mempersempit ruang gerak mereka.

Masyarakat mengira setiap orang yang berjenggot pasti ingin membunuhi
masyarakat dan menumpahkan darah mereka. Sebagaimana kaum muslimin
lainnya, kami juga sama sekali tidak membenarkan tindakan membunuh dan
menumpahkan darah yang diharamkan oleh Allah. Lalu kedua orang tua saya dan
segenap keluarga terus meminta saya supaya mencukur jenggot. Ibu saya
mengatakan bahwa ayah saya sangat marah kepada saya. Saya sendiri takut
menyelisihi salah satu sunnah Rasulullah dan takut jatuh ke dalam perbuatan
maksiat!?

Jawab :
Alhamdulillah,
Pertama: Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan atas ketaatan Anda
mengikuti Sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan dakwah Anda kepada
segenap keluarga Anda kepada Sunnah Nabi.

Kedua: Mencukur jenggot haram hukumnya, sedang memeliharanya adalah wajib
sebagaimana yang Anda ketahui. Mentaati Allah tentunya lebih diprioritaskan
daripada mentaati makhluk meskipun ia adalah keluarga yang terdekat. Tidak boleh
mentaati makhluk dalam hal berbuat maksiat kepada Allah. Mentaati makhluk harus
dalam perkara-perkara ma'ruf saja. Apa yang Anda sebutkan tadi, berupa
kekesalan dan kemarahan kedua orang tua karena Anda tetap memelihara jenggot
hanyalah dorongan sentimen perasaan belaka dan rasa khawatir atas keselamatan
pribadi Anda setelah melihat berbagai peristiwa yang menimpa orang lain. Akan
tetapi peristiwa-peristiwa tersebut umumnya terjadi atas orang-orang yang terlibat
dalam kancah fitnah itu bukan karena masalah memelihara jenggot semata.

Hendaklah Anda tetap teguh di atas kebenaran dan tetap memelihara jenggot
karena ketaatan kepada Allah dan mencari ridha-Nya, meskipun manusia tidak
senang. Dan hendaknya Anda menjauhkan diri dari tempat-tempat fitnah dan selalu
bertawakkal kepada Allah serta mengharap kepada-Nya semoga Dia memberi jalan
keluar bagi Anda dari setiap kesempitan. Allah berfirman dalam Kitab-Nya:
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya
jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan
barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang
dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu.” (QS. 65:2-3)

Dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah
niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Itulah perintah
Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barangsiapa yang bertaqwa kepada
Allah niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan
melipatgandakan pahala baginya.” (QS. 65:4-5)

Kami anjurkan agar Anda tetap berbakti kepada kedua orang tua dan memberikan
alasan kepada mereka berdua dengan lembut dan dengan cara yang baik.
(Fatawa Lajnah Daimah V/151, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta,
Dewan Tetap Arab saudi untuk riset-riset ilmiyah dan fatwa)

Sponsor link:


Fatwa Seputar Puasa di Bulan Syawal

Tanya :
Bagaimana kedudukan orang yang berpuasa enam hari di bulan syawal
padahal punya qadla(mengganti) Ramadhan ?

Jawab :
Dasar puasa enam hari syawal adalah hadits berikut
"Barangsiapa berpuasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan enam hari Syawal
maka ia laksana mengerjakan puasa satu tahun."
Jika seseorang punya kewajiban qadla puasa lalu berpuasa enam hari padahal ia
punya kewajiban qadla enam hari maka puasa syawalnya tak berpahala kecuali
telah mengqadla ramadlannya (Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin)

Hukum mengqadha enam hari puasa Syawal

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya : Seorang wanita sudah terbiasa menjalankan
puasa enam hari di bulan Syawal setiap tahun, pada suatu tahun ia mengalami nifas
karena melahirkan pada permulaan Ramadhan dan belum mendapat kesucian dari
nifasnya itu kecuali setelah habisnya bulan Ramadhan, setelah mendapat kesucian ia
mengqadha puasa Ramadhan. Apakah diharuskan baginya untuk mengqadha puasa
Syawal yang enam hari itu setelah mengqadha puasa Ramadhan walau puasa
Syawal itu dikerjakan bukan pada bulan Syawal ? Ataukah puasa Syawal itu tidak
harus diqadha kecuali mengqadha puasa Ramadhan saja dan apakah puasa enam
hari Syawal diharuskan terus menerus atau tidak ?

Jawaban:
Puasa enam hari di bulan Syawal, sunat hukumnya dan bukan wajib berdasarkan
sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan kemudian disusul dengan puasa
enam hari di bulan Syawal maka puasanya itu bagaikan puasa sepanjang tahun"
[Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya]

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa enam hari itu boleh dilakukan secara
berurutan ataupun tidak berurutan, karena ungkapan hadits itu bersifat mutlak,
akan tetapi bersegera melaksanakan puasa enam hari itu adalah lebih utama
berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya) : "..Dan aku
bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)" [Thaha :
84]

Juga berdasarakan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan
kutamaan bersegera dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Tidak
diwajibkan untuk melaksanakan puasa Syawal secara terus menerus akan tetapi
hal itu adalah lebih utama berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
(yang artinya) : "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus
dikerjakan walaupun sedikit"
Tidak disyari'atkan untuk mengqadha puasa Syawal setelah habis bulan Syawal,
karena puasa tersebut adalah puasa sunnat, baik puasa itu terlewat dengan atau
tanpa udzur.

Mengqadha enam hari puasa Ramadhan di bulan Syawal, apakah mendapat pahala
puasa Syawal enam hari

Sponsor link:


CARA MEMBAYAR ZAKAT HARTA

Pertanyaan 1:
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya : Seorang pegawai menabung
gaji bulanannya dalam jumlah yang berubah-ubah setiap bulan. Kadang uang yang
ia tabung sedikit dan kadang banyak. Sebagian dari uang tabungannya itu ada yang
telah genap satu haul dan ada yang belum. Sementara ia tidak dapat menentukan
uang yang telah genap satu tahun. Bagaimanakah caranya membayarkan zakat
uang tabungannya .?

Pertanyaan ke 2:
Seorang pegawai lainnya memiliki gaji bulanan yang selalu ditabungnya dalam kotak
tabungan. Setiap hari ia isi kotak tabungan itu dengan sejumlah uang dan dalam
waktu yang tidak begitu jauh ia juga mengambil sejumlah uang untuk nafkah
sehari-hari sesuai dari kebutuhan dari kotak itu. Bagaimanakah cara ia menentukan
uang tabungan yang telah genap satu tahun ? Dan bagaimanakah caranya
mengeluarkan zakat uang tabungan itu ? Sementara sebagaimana yang diketahui,
tidak semua uang tabungannya itu telah genap satu haul !

Jawaban:
Pertanyaan pertama dan kedua sebenarnya tidak jauh berbeda. Lajnah juga sering
disodorkan pertanyaan serupa, maka Lajnah akan menjawabnya secara tuntas,
supaya faidahnya dapat dipetik bersama.

Jawabannya sebagai berikut : Barangsiapa memiliki uang yang telah mencapai
nishabnya, kemudian dalam waktu lain kembali memperoleh uang yang tidak terkait
sama sekali dengan uang pertama tadi, seperti uang tabungan dari gaji bulanan,
harta warisan, hadiah, uang hasil penyewaan rumah dan lainnya, apabila ia
sungguh-sungguh ingin menghitung dengan teliti haknya dan tidak menyerahkan
zakat kepada yang berhak kecuali sejumlah harta yang benar-benar wajib
dikeluarkan zakatnya, maka hendaklah ia membuat pembukuan hasil usahanya. Ia
hitung jumlah uang yang dimiliki untuk menetapkan haul dimulai sejak pertama kali
ia memiliki uang itu. Lalu ia keluarkan zakat dari harta yang telah ditetapkannya itu
bila telah genap satu haul.

Jika ingin cara yang lebih mudah, lebih memilih cara yang lebih sosial dan lebih
mengutamakan fakir miskin dan golongan yang berhak menerima zakat lainnya,
maka ia boleh mengeluarkan zakat dari seluruh uang yang telah mencapai nishab
dari yang dimilikinya setiap kali telah genap satu haul. Dengan begitu pahala yang
diterimanyaa lebih besar, lebih mengangkat derajatnya dan lebih mudah dilakukan
serta lebih menjaga hak-hak fakir miskin dan seluruh golongan yang berhak
menerima zakat.

Hendaklah jumlah yang berlebih dari zakat yang wajib dibayarnya diniatkan untuk
berbuat baik, sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Allah atas
nikmat-nikmatNya dan anugrahNya yang berlimpah. Dan mengharap agar Allah
menambah karuniaNya itu bagi dirinya. Sebagaimana firman Allah.
Artinya : Jika kamu bersyukur maka Aku akan tambah nikmatKu bagi
kamu・[Ibrahim : 7]

Semoga Allah senantiasa memberi taufiq bagi kita semua.
[Fatawa Lil Muwazhafin Wal Ummat, Lajnah Da段mah, hal 75-77]
[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar段yyah Fi Al-Masa段l Al-Ashriyyah Min Fatawa
Ulama Al-Balad Al-Haram]

Sponsor link: