Rabu, 29 Juli 2015

Bagaimana hukum menonton film, sandiwara, televisi ?

Tanya : Bagaimana hukumnya sandiwara (sinetron, film, red) ?

Jawab : Sandiwara, saya katakan tidak boleh karena:
Pertama: Di dalamnya melalaikan orang yang hadir, mereka
memperhatikan gerakan-gerakan pemain sandiwara dan mereka
senang(tertawa). Di dalamnya mengandung unsur menyia-nyiakan waktu.
Orang Islam akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap waktunya.
Dia dituntut untuk memelihara dan mengambil faedah dari waktunya,
untuk mengamalkan apa-apa yang diridhai oleh Allah Ta'ala, sehingga
manfaatnya kembali kepadanya baik di dunia maupun di akhirat.
Sebagaimana hadits Abu Barzah Al-Aslamy, dia berkata,'Telah bersabda
Rasulullah, "Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat
sehingga ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan. tentang
hartanya darimana dia dapatkan, dan untuk apa dia infakkan. tentang
badannya untuk apa dia kerahkan. " [Dikeluarkan Imam At Tirmidzi (2417)
dan dia menshahihkannya]

Umumnya sandiwara itu dusta. Bisa jadi memberi pengaruh bagi orang
yang hadir dan menyaksikan atau memikat perhatian mereka atau bahkan
membuat mereka tertawa. Itu bagian dari cerita-cerita khayalan. Sungguh
telah ada ancaman dari Rasulullah bagi orang yang berdusta untuk
menertawakan manusia dengan ancaman yang keras. Yakni dari Muawiyah
bin Haidah bahwasanya Rasulullah bersabda,
"Celaka bagi orang-orang yang berbicara(mengabarkan) sedangkan dia
dusta (dalam pembicaraannya) supaya suatu kaum tertawa maka celakalah
bagi dia, celakalah bagi dia."[Hadits hasan dikeluarkan oleh Hakim(I/46),
Ahmad(V/35) dan At-Tirmidzi(2315).]

Mengiringi hadits ini Syaikh Islam berkata,'Dan sungguh Ibnu Mas'ud
berkata,
"Sesungguhnya dusta itu tidak benar baik sungguh-sungguh maupun
bercanda."

Adapun apabila dusta itu menimbulkan permusuhan atas kaum muslimin
dan membahayakan atas dien tentu lebih keras lagi larangannya.
Bagaimanapun pelakunya yang menertawakan suatu kaum dengan
kedustaan berhak mendapat hukuman secara syar'i yang bisa menghalangi
dari perbuatannya itu.[Majmu Fatawa(32/256)]

Sponsor link:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar