Rabu, 29 Juli 2015

Kapan seorang wanita diperbolehkan memakai pil-pil pencegah kehamilan,

Pertanyaan.
"Kapan seorang wanita diperbolehkan memakai pil-pil pencegah kehamilan, dan kapan hal itu
diharamkan ? Adakah nash yang tegas atau pendapat di dalam fiqih dalam masalah KB? Dan
bolehkah seorang muslim melakukan azal kerika berjima tanpa sebab?"

Jawaban.
Seyogyanya bagi kaum msulimin untuk memperbanyak keturunan sebanyak mungkin, karena
hal itu adalah perkara yang diarahkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya.
"Artinya : Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak karena aku akan berlomba
dalam banyak jumlahnya umat" [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/320, Nasa'i
2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]
Dan karena banyaknya umat menyebabkan (cepat bertambahnya) banyaknya umat, dan
banyaknya umat merupakan salah satu sebab kemuliaan umat, sebagaimana firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala ketika menyebutkan nikmat-Nya kepada Bani Israil.

"Artinya : Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar" [Al-Isra' : 6]
"Artinya : Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak
jumlah kamu" [Al-A'raf : 86]
Dan tidak ada seorangpun mengingkari bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemuliaan
dan kekuatan suatu umat, tidak sebagaimana anggapan orang-orang yang memiliki prasangka
yang jelek, (yang mereka) menganggap bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemiskinan
dan kelaparan. Jika suatu umat jumlahnya banyak dan mereka bersandar dan beriman dengan
janji Allah dan firman-Nya.

"Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rezekinya" [Hud : 6]
Maka Allah pasti akan mempermudah umat tersebut dan mencukupi umat tersebut dengan
karunia-Nya.

Berdasarkan penjelasan ini, jelaslah jawaban pertanyaan di atas, maka tidak sepantasnya
bagi seorang wanita untuk mengkonsumsi pil-pil pencegah kehamilan kecuali dengan dua
syarat.

[a] Adanya keperluan seperti ; Wanita tersebut memiliki penyakit yang menghalanginya untuk
hamil setiap tahun, atau, wanita tersebut bertubuh kurus kering, atau adanya
penghalang-penghalang lain yang membahayakannya jika dia hamil tiap tahun.
[b] Adanya ijin dari suami. Karena suami memiliki hak atas istri dalam masalah anak dan
keturunan. Disamping itu juga harus bermusyawarah dengan dokter terpercaya di dalam
masalah mengkonsumsi pil-pil ini, apakah pemakaiannya membahayakan atau tidak.
Jika dua syarat di atas dipenuhi maka tidak mengapa mengkonsumsi pil-pil ini, akan tetapi hal
ini tidak boleh dilakukan terus menerus, dengan cara mengkonsumsi pil pencegah kehamilan
selamanya misalnya, karena hal ini berarti memutus keturunan.

Adapun point kedua dari pertanyaan di atas maka jawabannya adalah sebagai berikut :
Pembatasan keturunan adalah perkara yang tidak mungkin ada dalam kenyataan karena
masalah hamil dan tidak, seluruhnya di tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika seseorang
membatasi jumlah anak dengan jumlah tertentu, maka mungkin saja seluruhnya mati dalam
jangka waktu satu tahun, sehingga orang tersebut tidak lagi memiliki anak dan keturunan.
Masalah pembatas keturunan adalah perkara yang tidak terdapat dalam syari'at Islam, namun
pencegahan kehamilan secara tegas dihukumi sebagaimana keterangan di atas.
Adapun pertanyaan ketiga yang berkaitan dengan 'azal ketika berjima' tanpa adanya sebab,
maka pendapat para ahli ilmu yang benar adalah tidak mengapa karena hadits dari Jabir
Radhiyallahu 'anhu.

"Artinya : Kami melakukan 'azal sedangkan Al-Qur'an masih turun (yakni dimasa nabi
Shallallahu 'alihi wa sallam)" [Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud 1/320 ; Nasa'i 2/71, Ibnu
Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu nu'aim dalam Al-hilyah 3/61-62]
Seandainya perbuatan itu haram pasti Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarangnya.
Akan tetapi para ahli ilmu mengatakan bahwa tidak boleh ber'azal terhadap wanita merdeka
(bukan budak) kecuali dengan ijinya, yakni seorang suami tidak boleh ber'azal terhadap istri,
karena sang istri memiliki hak dalam masalah keturunan. Dan ber'azal tanpa ijin istri
mengurangi rasa nikmat seorang wanita, karena kenikmatan seorang wanita tidaklah
sempurna kecuali sesudah tumpahnya air mani suami.

Berdasarkan keterangan ini maka 'azal tanpa ijin berarti menghilangkan kesempurnaan rasa
nikmat yang dirasakan seorang istri, dan juga menghilangkan adanya kemungkinan untuk
mendapatkan keturunan. Karena ini kami menysaratkan adanya ijin dari sang istri".
Fatawa Syaikh ibnu Utsaimin Juj 2 hal. 764 dinukil dari Fatawa Li'umumil Ummah

Sponsor link:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar