Jumat, 14 Agustus 2015

AL-QURAN DAN RAHASIA ANGKA-ANGKA

Para Imam Ma'shum 

Kata kerja ya'shimu (memelihara kesucian) berikut turunan katanya dalam AI-Quran disebut 12 kali, dan itu sesuai dengan banyaknya Khalifah Rasulullah saw. yang terpelihara serta benar­benar disucikan oleh Allah dari segala noda. Keduabelas kata ter­sebut terdapat dalam ayat-ayat berikut:
  1. Wahai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara (ya'shimuka) kamu dari (gangguan) manusia. .....(Al-Maidah: 67).
Sebab diturunkannya ayat ini pada waktu haji wada', bahwa ketika Rasulullah saw. kembali setelah ibadah haji, 18 Dzulhijjah, di Ghadir Khum, Allah menyuruh beliau untuk menyampaikan pesan kepada manusia bahwa Khalifah pertama sepeninggal beliau adalah Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Maka Rasulullah pun menyampaikannya kepada seluruh umat. Antara lain, beliau bersabda: "Bukankah aku lebih kamu utamakan ketimbang diri kamu sendiri?" Mereka men­jawab: "Tentu, ya Rasulullah!" Beliau bersabda lagi: "Barang­siapa yang memandang aku sebagai pemimpinnya (maula), maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, pimpinlah orang yang menjadikannya pemimpin, dan musuhilah orang yang memusuhinya; tolonglah orang yang menolongnya dan hina­kanlah orang yang menghinakannya. " Hadis ini jelas mutawatir, dan disepakati keshahihannya, di samping juga ada riwayat (lain) dalam Shahih Muslim yang menunjuk kepada fakta ini. Hanya saja, dalam riwayat Muslim, wasiat­nya ditujukan kepada Ahli Bait a.s. Shahih Muslim, Kitab AZ-Fadha'il (keutamaan-keutamaan), bab fadha'il Ali bin Abi Thalib (r.a.), halaman 362, terbitan Isa Al-Halabi; juz VII, halaman 122, terbitan Muhammad Ali Shahih: Dari Zaid bin Arqam, dia berkata: "Rasulullah saw. pada suatu hari berdiri dan berkhutbah kepada kami di tempat air yang disebut Khum , antara Makkah dan Madinah.1 Seraya beliau memuji dan mengagungkan Allah, serta memberi wejangan (dzikr). Lalu beliau bersabda:
"Amma ba'du. Ingatlah wahai manusia, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia. Segera utusan Tuhanku akan datang dan aku akan segera menjawabnya (wafat). Aku tinggalkan pada kalian tsaqalain: pertama, Kitab Allah yang berisi petunjuk dan cahaya, maka ambillah dan peganglah erat-erat Kitab Allah itu, perhatikanlah dan cintailah ia.'
Selanjutnya, beliau bersabda:
'Dan, (kedua), Ahli Baitku. Semoga Allah mengingatkan kamu kepada Ahli Baitku. Semoga Allah mengingatkan kamu kepada Ahli-Bait­ku'. "
Secara maknawi, hadis Ghadir ini diriwayatkan di dalam Shahih Al-Tirmidzi (V:297-379); Sunan Ibnu Majah (I:94-95); Mustadrak Hakim (III:110); Musnad Ahmad bin Hambal (I:88); Tarikh Kabir al-Bukhari (I:375); dan lain-lain.
Sebab turunnya ayat tersebut berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib (a.s.), sebagaimana banyak dikemukakan oleh para ulama, seperti Al-Wahidi dalam Asbabun-Nuzul-nya, terbitan Su'udiah - Riyadh, Dar al-Qiblat, halaman 195; juga dalam tafsir Fakhrurrazi (XII:298), cetakan Beirut, terbitan Mesir; dan lain-lain.
  1. Katakanlah: "Siapa yang dapat melindungi kamu (ya'shi­mukum) dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu. ..... (Al-Ahzab: 17).
  2. Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku (ya'shimuni) dari air bah"...... (Hud: 43).
  3. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan per­6aikan dan berpegang teguh (wa'tashimu) kepada (agama) Allah dan tulus ikhlas mengerjakan agama mereka karena Allah. ..... (An-Nisa: 146).
  4. Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan ber­pegang teguh (wa'tashimu) kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya yang besar ..... (An-Nisa: 175)
  5. ... Barangsiapa yang berpegang teguh (ya'tashim) kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Ali Imran: 101)
  6. Dan berpeganglah kamu semua (wa'thshimu) kepada (tali) Allah dan janganlah kamu bercerai berai . .. (Ali Imran: 103).
  7. ..... maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu (wa'tashimu) kepada tali Allah. Dan adalah pelindungmu ..... (Al-Hajj: 78).
  8. ..... dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk me­nundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak (wa'tashim) (Yusuf: 32)
  9. ..... dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah ('ashim) . . . (Yunus: 27)
  10. ..... berkata: "Tidak ada yang melidungi ('ashim) pada hari ini dari azab Allah kecuali diberi rahmat ..... (Hud: 3).
  11. (Yaitu) dari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu ('ashim) dari (azab) Allah . . . (Ghafir: 33).
 
1. Pembacaan Shalawat yang benar ialah (semoga Allah melimpahkan kesejahteraan kepada Nabi "beserta keluarganya", dan semoga memberikan keselamatan), sesuai dengan Sunah Rasul saw. yang melarang membaca shalawat yang terpotong (al-batra'), sebagaimana yang tercantum dalam Shahih Bukhari, kitab tafsir bab firman Allah SWT. "Sesungguhnya Allah beserta para malaikat-Nya membaca Shalawat kepada Nabi . . . " (V:27), Dar al-Fikr, Mathabi' Al-Sya'b; dan pada kitab Da'wah bab shalawat kepada Nabi saw. (II:16), Syarikat ALI'lanat, dan (I:45); Sunan Ibn Majah (I:292), hadis nomor ke-976 dan 977; Musnad Ahmad bin Hambal (II:47), cetakan Maimuniah Mesir; Muwaththa' Malik yang dicetak ber­ikut syarahnya, Tanwir Al-Hawalik (I:179); Tafsir Qurthubi (XIV:288); Tafsir !bn Katsir (III:507); Tafsir Al-Razi (XXV:226), cetakan Al-Bahiah Mesir, dan (VII;391), cetakan Dar al-Thaba'ah Mesir; dan banyak lagi. Semuanya meriwayat­kan larangan Rasulullah saw, mengenai pembacaan shalawat kepada beliau tanpa menyebutkan keluarganya. Berikut ini adalah matan yang dikemukakan oleh Al-Bukhari setelah menyebutkan maksud ayat mulia tadi, maka mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, telah kami ketahui bagaimana kami harus mengucapkan salam kepadamu. Lalu, bagaimana kami harus mengucapkan shalawat kepadamu?" Rasulullah saw. menjawab: ' Katakanlah, "Ya Allah, limpahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad Janganlah kalian mengucap shalawat kepadaku dengan shalawat terpotong." Ditanyakan: "Apakah shalawat terpotong itu ya, Rasulullah?" Rasul menjawab: ' Janganlah kalian mengatakan: 'Ya, Allah limpahkanlah kesejahteman kepada Muhammad; lalu kalian diam hingga di situ. Tetapi katakanlah: 'Ya Allah, limpahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad : "
Hadia semacam itu dikemukakan dengan bermacam-macam matan yang berdekatan arti dan maksudnya, dan seiring dengan adanya matan-matan mengenainya yang mutawatir. Mengenai hal ini pula, kita sering mendapatkan kebanyakan kaum Muslim, ketika menuturkan dan mengucapkan shalawat kepada Rasulullah saw. yang mereka ucapkan adalah shalawat batra' (buntung). Mereka mengucapkan shalawat kepada Rasulullah saw. tanpa mengikutsertakan shalawat kepada keluarganya. Sehingga saya tidak tahu, tradisi yang mana yang mereka ikuti? Jelas, seluruh matan hadis yang mutawatir tadi melarang mengucapkan shalawat kepada Rasulullah saw., kecuali dengan mengikutsertakan shalawat kepada keluarganya.

 


Al-Quran dan Rashia Angka-Angka
Oleh: DR. Abu Zahra an-Najdi

Sponsor link:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar